Telematika Dakwah Mencegah Konflik Maluku
Mencermati masalah kehidupan sosial masyarakat di
Maluku, telah mengharu-biru akibat imbas informasi budaya global, imbas politik, imbas BBM, dan imbas dekadensi moral. Masalah ini mengaduk-aduk
pikiran dan perasaan kita semua akibat derasnya penjajahan budaya global dengan
yang menawarkan
pola hidup hedonisme,
kapitalisme, dan materialisme(fun, food, and fashion). Budaya ini di sebarkan melalui teknologi
informasi di tengah masyarakat di Indonesia termasuk Provinsi Maluku.
Keadaan ini membutukan kehadiran telematika dakwah pada posdaya masjid untuk
menghidupkan dan memberi “sugesti” kepada kehidupan manusia melalui silaturrahmi
para imam, mubalig, dan ta’mir masjid. Menurut Raghib Isfahani bahwa dakwah adalah menggerakkan
motivasi dan nalar spiritualitas manusia ke arah yang lebih aman, tenang,
nyaman, tentram dan tidak ada rasa takut. Hal ini perlu diperjuangkan dengan cara memproteksi
gempuran informasi negatif yang mengganggu masa depan umat Islam di Maluku.
Peran telematika dakwah untuk menggerakkan silaturrahmi
antar imam, mubalig, dan ta’mir masjid dalam menjaga alam pikiran umat dari propaganda media massa,
iklan-iklan yang kerap kali kurang produktif ditanamkan dalam memori masyarakat
di Maluku. Kondisi ini tidak sebanding dengan konstruksi informasi di masjid
sebagai pusat peradaban Islam sehingga perlu silaturrahmi
antar imam, mubalig, dan penataan ta’mir masjid yang lebih profesional.
Peran telematika dakwah melalui kecanggihan teknologi informasi perlu sebagai perpanjangan para mubalig untuk meningatkan daya jangkau pesan dakwah di daerah terpencil di Maluku. Kondisi ini menjadi tak menentu akibat derasnya
peran informasi negatif lebih menonjolkan budaya materialisme dan melupakan tradisi
spiritualisme. Inilah pentingnya adanya silaturrahmi antar imam,
mubalig, dan penataan ta’mir masjid yang lebih profesional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar